Sampai satu bulan yang lalu saya keracunan MERDEKA BELAJAR, dari sanalah saya mencoba membenahi cara mengajar saya. 18 program diklat di Kampus Guru Cikal sudah saya ikuti, mencoba menerapkan yang sudah dipelajari dikelas, namun ternyata masih banyak kekurangan dalam teknik saya mengajar. saya memang selalu kesulitan untuk membuat pertanyaan awal untuk memancing pengetahuan dan keingintahuan siswa.
Malam ini saya membuka kembali kampus Guru Cikal dan mengambil program Keterampilan Membuat Pertanyaan untuk Merdeka Belajar. Ternyata banyak hal-hal baru yang saya dapatkan pada program ini. Program yang tidak pernah ada saat saya kuliah S1 dan S2 dulu.
Disajikan 2 video pembelajaran tentang pembelajaran yang melakukan konsepsi tentang pertanyaan di video A. Guru menginstruksikan siswa untuk membaca materi tentang pencernaan manusia selama 5 menit dan guru memberikan pertanyaan organ apa saja yang membentuk pencernaan manusia. Dengan wajah panik Ando menyebutkan mulut, tenggorokan, lambung, usus. kemudian guru memberi umpan balik dengan menginstruksikan agar Ando membaca ulang materi, apakah tenggorokan termasuk organ pencernaan. Guru kemudian meminta teman Ando untuk menjawab apa yang kurang dari jawaban Ando. Saat Ando bertanya pada guru, guru tidak menjawab malah menginstruksikan Ando agar membaca ulang materi agar lebih mengerti, karena materi tersebut sudah diberikan pada pertemuan yang lalu.
Pada video B, guru langsung bertanya pada siswa reaksi saat tubuh kelaparan, siswa langsung menjawab, lemas, tidak bergairah,susah konsentrasi. Kemudian guru menimpali lagi dari jawaban siswa yang menjawab pertama kali, mengapa susah berkonsentrasi saat lapar. Salah satu siswa menjawab karena asupan energi sudah menipis, sehingga tubuh tidak berdaya dan terasa lemas. Guru kemudian bertanya kembali pada siswa apakah siswa dapat menjelaskan mengapa dengan makan tubuh menjadi kuat dan tidak lemas. Siswa menjawab karena makanan mengandung vitamin dan energi. Setelah itu siswa diajak untuk menyebutkan organ-organ apa saja yang berperan dalam proses pencernaan. Saat siswa ragu antara kerongkongan dan tenggorokan, guru kemudian mengajak siswa untuk menonton video. Setelah menonton video barulah guru memberikan kesempatan peserta didik membuat pertanyaann dari video yang di tonton.
Dari video tersebut saya sudah paham jika saya masih kurang paham tentang bagaimana membuat pertnyaan esensial, karena pembelajaran saya lebih banyak mengarah pada video A bukan video B.
Jenis - Jenis Pertanyaan
Pada proses pembelajaran pertanyaan mengenai fakta juga masih diperlukan, namun bukan satu satunya penekanan. Mengajukan pertanyaan merupakan langkah termudah untuk melibatkan murid dalam pembelajaran interaktif. Dalam mengolah informasi, murid tidak hanya belajar untuk pengetahuan atau konten semata. Akan tetapi, lebih kepada konsep, ide dan penerapannya pada kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pertanyaan yang tidak hanya menyampaikan konsep. Pertanyaan argumentatif juga diperlukan agar murid dapat menghubungkan permasalahan atau isu-isu ke dalam konteks yang dipelajari. Pada akhirnya, murid dapat memberikan solusi dan memecahkan masalah kehidupan.
Pertanyaan konsep ialah jenis pertanyaan yang memuat ide, gagasan dan pernyataan dari materi yang bersifat abstrak. Untuk memudahkan guru mengajukan pertanyaan konsep, terdapat delapan jenis yang menjadi dasar dari pertanyaan konsep.
1. Tujuan pembelajaran
Berisi tentang tujuan pembelajaran yang akan diberikan pada peserta didik, keterampilan apa yang
akan dikuasai murid, dan Kompetensi apa yang akan ditunjukkan murid.
2. Cakupan pembelajaran
Berisi materi pengajaran apa yang akan guru gurnakan untuk membantu murid menguasai
tujuan pembelajrannya.
3. Tujuan pembelajaran dan cakupan pembelajaran berisi tentang materi pengajaran,
yakni fakta apa yang akan murid ketahui. Konsep apa yang diharapkan akan dipahami murid.
Isu di masyarakat yang relevan dengan materi pengajaran. Permasalahan ini biasanya yang menimbulkan perdebatan atau keraguan.
4. Terakhir barulah membuat pertanyaan yang terkait dengan ketiganya.
Berikut ini adalah contoh kanvas yang saya buat dalam mata pelajaran Seni Budaya.
Daftar Pertanyaan esensial untuk materi mengidentifikasi alat musik berdasarkan cara memainkannya terdiri dari :
1. Faktual : Berapa banyak alat musik yang ada di ruang seni SMPN 1 Tlanakan, apa beda alat pukul pada alat musik berpencon terbuat dari logam dan bilah-bilah dari logam?
2. Konseptual : Bagaimana memainkan alat musik yang berpencon?, bagaimana memainkan alat musik yang menggunanakan kayu dan kulit?, apakah yang terjadi saat alat musik dari kulit dimainkan menggunakan pemukul kayu?
3. Argumentatif : mengapa musik daul di Pamekasan, jarang sekali dimainkan wanita?, Mengapa beberapa ulama menyatakan musik itu haram?, Mengapa menurutmu notasi musik tidak perlu dipelajari?, Bagaimana teman-teman tunanetra (buta) dapat memainkan alat musik dengan baik dibandingkan kita yang bisa melihat?
Bagaimana menurut anda kanvas yang saya buat?, diskusi bersama yuk, dan tinggalkan komentar apa saja yang kurang dari kanvas saya. Terimakasih, salam "PANTANG MENGAJAR JIKA TAK BELAJAR"!
















Alhamdulillah... Telah merefleksikan diri. Yang menarik bagi saya pribadi adalah tulisan ketrampilan membuat pertanyaan.
BalasHapusTerimakasih telah berbagi semoga kita semuanya selalu semangat belajar demi berbenah dan menambah pengetahuan untuk diterapkan dalam pembelajaran nyata.
Terimakasih bun ... hayuk kita sama - sama belajar ... agar nantinya kita benar-benar mampu melayani anak2 ini dengan baik sehingga mereka siap mengarungi dunia yang luas ini.
HapusTerima kasih bisa diijinkan koment. Saya jadi teringat seorang siswa saya yang sangat suka bertanya, kadang teman sekelasnya jengkel, karena bahkan pertanyaan dia ada penjelasan di buku (ah jaman dulu saat sumber belajar tidak *semeriah* sekarang. Tapi saya selalu berusaha membantunya menemukan jawaban entah dr kawan sekelasnya atau lainnya atau terakhir dr saya sebagai gurunya. Dia justru dg enteng bilang "berhenti bertanya berarti mati". Betapa saya sangat tertarik dg mottonya..suatu hari dia bertanya "Ibu, kenapa saya harus belajar hal ini" setelah pertanyaan2 lain darinya.
BalasHapusSaya mencoba dengan membalik setengah bertanya, "ah Ibu tidak tahu untuk apa engkau belajar hal ini" dia terus mencecar, teman2 nya sudah mulai kesal, tapi tidak bagi saya, setelah beberapa argumen kembali dipertanyakan, saya merasa perlu untuk menariknya ke garis yg jelas.
Kalau pertanyaan mu Ibu tarik ke konsep lain, mapel lain dst, maka inti pertanyaanmu apa? Akhirnya dia sadar dia bertanya: "untuk apa saya belajar?" Ini menjadi refleksi yg maha penting bagi saya sebagai guru, juga bagi semua siswa.
Benar bun, jangankan murid terkadang saat saya sedang di suatu forum dan beberapa orang bertanya hal yang sudah jelas, dalam hati pasti saya ngoceh sendiri "ih masa gitu aja gak paham, emang kuliah dimana dulu, pemahaman semudah itu kok gak nyantol2 perlu di tanya berulang-ulang ke panelis. Dan baru sekarang saya ingat bahwa itu juga konsep warisan yang kita bawa saat kita duduk di sekolah dulu, karena bahkan guru-guru sayapun tidak pernah memberikan kesempatan bagaimana bertanya, memancing pertanyaan esensial yang membuat kita semakin penasaran tidak pernah saya terima saat disekolah dulu. Rupanya saat jadi gurupun warisan itu melekat pada saya, mengajarpun ya suka-suka saya tidak pernah memberikan kesempatan siswa bertanya, dan menganggap orang yang sering bertanya itu adalah orang yang tidak pintar.
HapusKita guru sekarang dituntut sebagai fasilitator, jika cuma materi belajar siswa dapat mempelajarinya lewat google. Namun mengarahkan mereka menuju jalan yang sebenarnya tidak tidak tergantikan oleh google, memberikan pertimbangan, memberikan analisis lanjutan, apa yang menjadi resiko jika hal tersebut dilakukan dll, tentunya guru tidak tergantikan dengan teknologi apapun.
Nah selanjutnya saya lanjutkan ditulisan kedua saya bagaimana memahami murid, karena beberapa murid memang ada yang cara dab gaya belajarnya harus bertanya terus-menerus untuk bisa memahami ataupun menegaskan apa yang akan dia pilih.
merefleksikan proses dalam pembelajaran cukup sulit yak sist, sampai terkadang siswa itu kudu dibpancing dengan pembahasan yang akan menimbulkan agar mereka bertanya, pada dasarnya, tetap dalam Kurangnya pemahaman namun mereka pura-pura paham.,
BalasHapusYa benar, sulit memang karena kita baru memulainya. Seandainya mulai pendidikan anak usia dini sudah diterapkan pastinya tidak seperti sekarang. Namun sekarang bukan waktunya menyalahkan sistem atau siapapun. Sayapun tidak menampik, dari dulu saat anak tidak mampu maka yg saya salahkan adalah guru sekolah dasarnya. Saya pikir tidak fear saat menyalahkan orang lain karena guru disekolah dasarpun juga kesulitan karena ketidaktahuan mereka, saat mereka tau pastinya mereka akan mengusahakan yg terbaik. Karena tujuan setiap guru pada dasarnya ingin setiap siswa dapat survive saat masuk ke kehidupan masyarakat nantinya. Sekarang mari kita coba untuk memulai,mari bersama2 usahakan banyak cara supaya mereka bisa benar benar mampu memahami apa yg mereka pelajari.
Hapus