Senin, 06 Desember 2021

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Program Kampus Guru Cikal, diselesaikan 19 November 2021


    Mengajar adalah kegiatan yang paling imajinatif , seperti bermain peran, simulasi, bercerita, semua tentunya mengarah kepada pembelajaran tertentu yang diinginkan. Oleh karena itu, menetapkan tujuan instruksional memerlukan upaya untuk mengidentifikasi dengan tepat apa yang akan diharapkan murid akan pelajari. Menentukan tujuan pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam memulai kegiatan mengajarnya (Memahami Tujuan Belajar, Kampus Guru Cikal).

    Dimanakah saya menemukan tujuan pembelajaran? di RPP! Ya benar, saya menemukan tujuan pembelajaran untuk siswa di RPP yang saya rancang!


    Tujuan pembelajaran RPP diatas adalah melalui diskusi peserta didik mampu menjelaskan jenis - jenis pianika dengan benar dan percaya diri. Apakah tujuan pembelajaran di RPP saya sudah sesuai dengan definisi tujuan pembelajaran dalam merdeka belajar? Mari kita simak miskonsepsi tentang tujuan pembelajaran untuk mengetahui apakah sudah sesuai atau tidak.

Miskonsepsi Tujuan Pembelajaran:1

  • Tujuan pembelajaran harus berdasarkan kompetensi inti dan kompetensi dasar dari kurikulum nasional.

        Kurikulum Nasional memang sudah menyediakan daftar kompetensi inti da kompetensi dasar namun bukan berarti guru tidak dapat membuat kompetensi yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Kurikulum Nasional bisa dijadikan kerangka agar dapat dikembangkan kembali oleh guru.
        Berdasarkan contoh tujuan pembelajaran pada RPP yang saya rancang, menurut saya sudah terbebas dari jerat miskonsepsi tentang tujuan pembelajaran karena KD pada kurikulum Nasional berbunyi " Memahami konsep dasar memainkan alat musik sederhana dan memainkan alat musik sederhana secara perorangan". Saya menerjemahkannya dengan memahami dan memainkan alat musik pianika, karena tersedia di ruang seni, dan siswa hanya perlu untuk membeli alat tiupnya saja seharga lima belas ribu.  

  • Tujuan pembelajaran dibuat oleh pimpinan sekolah.

        Guru memiliki peran besar untuk merumuskan tujuan pembelajaran karena gurulah yang sehari - hari berinteraksi dengan peserta didik dikelas, sehingga tidak tepat jika tujuan pembelajaran dibuat oleh kepala sekolah yang hanya menginginkan prestasi segelintir siswa dibandingkan siswa - siswa yang memiliki keterbatasan dan kesulitan belajar. 

         Pada point ini juga saya sudah merdeka dari belenggu, karena pimpinan tidak pernah memberikan atau mengharuskan saya untuk memberikan tujuan khusus untuk pembelajaran seni budaya di mata pelajaran seni budaya. 

  • Tujuan pembelajaran harus spesifik dan kompleks.

        Siapapun yang membaca tujuan pembelajaran bisa langsung paham dan mengerti apa maksudnya sehingga harus menggunakan kata-kata yang jelas dan mudah dimengerti dan bisa dijadikan kalimat tanya. 

            Menurut saya, tujuan pembelajaran saya bisa dipahami dan dimengerti namun terlalu spesifik dan komplek. Bagaimana menurut anda? 

  • Tujuan pembelajaran adalah pengetahuan yang harus dimiliki oleh murid.

        Tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai apa yang akan dipelajari oleh murid, bukan hanya pengetahuan tapi juga harus bisa menggambarkan  pemahaman dan keterampilan yang nantinya akan dimiliki murid setelah pembelajaran berakhir.

            Menurut saya dibagian ini saya masih terjebak pada miskonsepsi karena keegoisan saya yang menginginkan siswa dapat memainkan alat musik pianika, padahal seharusnya lebih dari hanya sekedar memainkan pianika.  

  • Membuat tujuan pembelajaran mudah dan cepat.
        Membuat analisis tujuan pembelajaran tidak mudah dan cepat, membuatnya harus melalui analisis dengan melihat karakteristik siswa dan kebutuhan murid secara mendalam.

        Tujuan pembelajaran pada RPP dibuat dengan cepat tanpa melalui proses analisis dengan melihat karakteristik siswa dan kebutuhan murid. 

  • Tujuan pembelajaran tidak ada hubungannya dengan asesmen.
       Tujuan pembelajaran sangat berkaitan dengan asesment, sehingga dalam tujuan pembelajaran harus jelas terdeskripsikan melalui asesment.

        Jika dilihat dari asesment yang dibuat sama sekali tidak berhubungan dengan asesment yang komplek sehingga pada bagian ini saya masih terjebak dalam miskonsepsi.     

 

  • Tujuan pembelajaran adalah daftar konten yang harus diajarkan guru.
        Tujuan pembelajaran adalah deskripsi dari apa yang ingin murid pelajari dan bukan konten, namun pengetahuan, keterampilan dan kompetensi apa yang ingin dikuasai murid sehingga profiling murid mutlak diperlukan.

        Pada aspek ini saya juga masih berada dalam zona miskonsepsi, karena saya tidak pernah menawarkan kepada siswa apa yang ingin mereka pelajari dan yang membuat mereka termotivasi untuk mempelajari pengetahuan secara utuh.


        Definisi tujuan pembelajaran menurut Bukik Setiawan adalah arah, bukan target karena belajar tidak sama seperti supir angkot,  seperti kompas yang akan memandu kemana arah ke barat, timur, utara ataupun selatan menuju petualangan belajar. Kriteria tujuan belajar dalam merdeka belajar adalah pelibatan murid dalam memilih dan menentukan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran terkait dengan murid karena pembelajaran adalah milik murid. Mengacu pada penguasaan kompetensi tertentu, karena penguasaan kompetensi yang diiginkan butuh rute - rute tertentu, misalkan bagaimana bisa menulis jika belum bisa membaca. Tujuan pembelajaran terkait dengan isu komunitas sehari-hari, untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari sehingga guru dan murid berarti dalam belajar dan mereka merasa berarti. Tujuan pembelajaran juga terkait dengan kurikulum sekolah yang tertuang dalam visi misi sekolah.

        Tujuan pembelajaran penting dibuat guru, perumpamaannya misalkan di kedokteran banyak macam - macam buku tentang penyakit dan cara penangannannya tapi kita sebagai pasien tidak bisa membaca sendiri bukunya, menerapkan serta menentukan obatnya, sehingga kita tetap membutuhkan dokter. Sakit yang sama tidak lantas obatnya sama, karena kondisi pasien yang tidak sama. Buku pengobatan dalam pendidikan adalah kurikulum, yang walaupun sudah tertulis lengkap tetap membutuhkan guru karena berperan melakukan penyesuaian mencakup apa yang akan dipelajari murid, bagaimana kemampuan awal murid, bagaimana profil murid, bagaimana ketersediaan waktu belajar dan sebagainya untuk menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas.


    Untuk merumuskan tujuan pembelajaran haruslah bermula pada tujuan akhir. Saat kita ingin bepergian, maka saat keluar rumah kita sudah menentukan tujuan akhir kita kemana, bukan menentukan baju apa yang harus dipakai, membawa oleh-oleh apa.  Misalkan saya ingin pergi ke Bangkalan untuk mengunjungi teman baru. Saya dapat memilih transportasi apa saja yang ingin saya gunakan untuk mencapai tempat tujuan dan kendala - kendala apa jika saya memilih transportasi tersebut. Alamat juga harus jelas, bukan hanya nama kelurahannya saja agar tidak tersesat dan malah jauh dari tujuan awal. 
        Begitu juga dengan tujuan pembelajaran harus jelas sejelas-jelasnya, lengkap menjelaskan siapa, apa yang hendak dipelajari, dan harus tepat sasaran. Tepat sasaran adalah tujuan yang memberikan tantangan pada perkembangan di usianya. sehingga guru tau masalah yang dihadapi muridnya, apa yang dibutuhkan muridnya. Tujuan pembelajaran tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit dicapai oleh murid.

Langkah perumusan tujuan pembelajaran. 

  1. Melakukan analisis kinerja.
  2. Buat draft tujuan awal.
  3. Tuliskan pengetahuan apa yang ingin murid pelajari, konsep apa yang murid akan pahami, keterampilan apa yang akan murid kuasai.
  4. Tuliskan tujuan pembelajaran instruksional dalam bentuk pernyataan.
  5. Tuliskan tujuan pembelajaran dalam bentuk pertanyaan.

untuk melakukan analisis kerja dengan langkah-langkah berikut: 

  1. Lihat kembali daftar KI dan KD atau tujuan pembelajaran yang ada di dalam kurikulum masing-masing. 
  2. Lihat daftar tujuan pembelajaran yang sudah dilakukan di semester lalu/ triwulan lalu. 
  3. Periksa gap antara daftar tujuan pembelajaran dengan hasil kinerja murid dikelas. Hasil kinerja bisa dilihat dari nilai tugas terakhir atau portfolio murid. 
  4. Selidiki mengapa gap itu terjadi dengan melakukan analisis kebutuhan, yang dimaksud kebutuhan adalah: 

    • - hasil yang diinginkan 
    • - hasil pada kenyataannya. 
    • - kebutuhan = hasil yang diinginkan - hasil pada kenyataaan. 

Apabila sudah menemukan satu tujuan pembelajaran, berikut yang bisa kita lakukan: 

 

Periksa kembali apakah tujuan pembelajaran sudah: 

- Sesuai dengan kebutuhan murid? 

- Bisa diukur dalam waktu yang ditentukan? 

- Apakah cukup memberikan pilihan dan tantangan bagi murid? 

- Sesuai dengan konteks pembelajaran? 

 

Berikut adalah contoh tujuan pembelajaran yang bisa direvisi menurut kriteria tujuan pembelajaran. 

- murid mampu mengerjakan perkalian. 

- murid mampu menulis cerita. 

- murid mampu melakukan eksperimen. 

- murid mampu menjelaskan proses adaptasi pada mahluk hidup. 

- murid mampu menendang bola.


 membongkar kembali tujuan awal pembelajaran yang Anda punya. Caranya dengan membuat klasifikasi dari tujuan pembelajaran tersebut. 

 

1. Tuliskan konsep yang murid akan pahami dari tujuan pembelajaran tersebut. Dalam hal ini, Anda sebagai guru harus benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan konsep dan bedanya dengan keterampilan maupun pengetahuan. Contoh konsep: 

- siklus 

- sistem 

- organisasi 

- profesi 

- perbedaan 

 

2. Tuliskan keterampilan yang akan dikuasai oleh murid di kanvas bidang warna kuning. Contoh keterampilan: 

- menulis 

- membuat klasifikasi 

- mendesign 

- berpikir kritis 

- menganalisis 

 

3. Tulis pengetahuan yang akan dikuasai oleh murid di kanvas bidang warna pink. Contoh pengetahuan: 

- nama binatang 

- nama tanaman 

- tokoh-tokoh sejarah 

- angka 1-1000 

 

Silahkan tuliskan tujuan pembelajaran Anda dibagian paling bawah untuk bisa melihat kembali apakah tujuan pembelajaran Anda sudah cocok dengan kompetensi yang diinginkan.

 
        Diagram dan keterangn diatas adalah kanvas dari Kampus Guru Cikal yang saya buat sesuai apa yang saya pahami, namun dengan mengisi kanvas tersebut memperbudah jalan berpikir saya, walaupun saya masih belum paham apakah itu benar atau salah, namun sepertinya di kampus guru cikal saya diberikan keleluasaan untuk dapat membuat sesuatu yang baru, yang tidak harus sama seperti yang dibuat orang - orang kebanyakan, sehingga bisa tau kalau itu benar ataupun tidak dengan cara mengaplikasikannya, bukan cuma membuatnya. Aplikasikan, ujicobakan agar tau apakah yang kita lakukan sudah benar atau tidak. Cari rekan yang dapat diajak untuk share, sehingga kita mendapatkan feedback dari apa yang telah kita lakukan dan buat rencana tindak lanjut untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi.


            Semoga share saya kali ini dapat bermanfaat untuk teman - teman guru, sepertinya kedepan tidak perlu bingung ngurusi perubahan kurikulum karena yang perlu kita rubah adalah perlakuan - perlakuan kita pada siswa yang selama ini masih terjerat dalam miskonsepsi. Murid masih kesulitan dalam menentukan tujuan belajarnya, sehingga kita selaku guru harus benar-benar memberikan pemahaman-pemahaman tentang pentingnya tujuan belajar buat mereka. Sepenting apakah pelajaran seni budaya misalkan, apa yang ingin mereka pelajari dari seni budaya, aspek yang mana yang benar-benar mereka pelajari. Murid yang baru lulus SD minim informasi jika seni budaya terdiri dari 4 aspek mereka hanya tahu bahwa seni budaya hanya seni rupa, musik dan prakarya. Pembelajaran di SD juga minim karena guru kelas yang memiliki peran terbesar dalam kelas, sedangkan di SMP setiap mata pelajaran memiliki guru masing-masing.
            Jangan lupa tinggalkan komentar ya, karena feedback dari pembaca sangat berarti buat saya untuk memperbaiki apa yang kurang dari pembelajaran saya.






Kamis, 02 Desember 2021

Keadilan dan Kesetaraan itu Sama!

Memahami Murid untuk Pembelajaran Merdeka Belajar

Hasil belajar di Kampus Guru Cikal ,17 November 2021 



KEADILAN DAN KESETARAAN ITU SAMA! Benarkah?

Mari kita perhatikan gambar di bawah ini!


                                       gambar 1                                                                   gambar 2

        Menurut anda manakah yang merupakan keadilan, dan manakah yang merupakan kesetaraan? mari kita bahas lebih dalam. Gambar 1 merupakan keadilan karena setiap orang mendapatkan 1 balok, namun anak yang memiliki tinggi badan lebih pendek dari yang lain tidak dapat menonton pertandingan yang terjadi didalam pagar. Gambar ke 2 merupakan kesetaraan, karena pada akhirnya semua dapat menonton pertandingan didalam pagar.

    Jika membawa konsep keadilan dan kesetaraan di dalam kelas dengan beragamnya kemaampuan peserta didik, tentunya perlakuan dan treatment yang dilakukan jelas tidak boleh disama ratakan, atau adil dalam konsep yang terlihat pada gambar 1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keadilan belum tentu setara, setara berarti setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.

    Mengapa perlu memahami profil murid? karena dengan mengetahui profil murid kita sebagai guru menjadi mengetahui apa yang sebenarnya kebutuhan  murid, dan informasi tersebut dapat digunakan untuk merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dikelas.

    Berat mungkin saat diterapkan guru SMP ataupun guru mata pelajaran yang harus mengajar dikelas berbeda. Namun pastinya akan lebih mudah jika peserta didik sudah termotivasi dan mengetahui tujuan belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selama ini saya sebagai guru rasanya belum pernah bertanya kepada siswa saya tujuan belajar mereka apa, apa yang ingin mereka ketahui dengan belajar. Kesulitan belajar murid juga perlu diketahui oleh guru. Selama ini saya hanya terfokus pada keinginan pribadi untuk bisa menurunkan ilmu saya kepada murid, suka ataupun tidak suka, mau ataupun tidak mau mereka wajib menerima dan menelan apapun ilmu yang saya berikan. Sampai akhirnya saya mengetahui hal tersebut tidak membuat murid saya lebih memahami bahwa yang saya lakukan demi masa depan mereka. 

       Murid yang saya anggap bodoh, tidak pernah mengerjakan tugas setelah diberi angket untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya, secara luar biasa mampu mendeskripsikan apa yang diinginkan dan bagaimana cara untuk meraih keinginannya. Begitu pula dengan murid yang cita-citanya hanya ingin menjadi supir truk seharusnya tidak perlu saya jejali dengan teori musik yang rumit,  pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya mereka hafalkan, dan akhirnya tidak mereka gunakan lagi dimasa depan. Buang - buang energi rupanya segala hal yang sudah saya lakukan selama 15 tahun ini, walaupun mungkin tidak berlaku pada murid-murid yang sudah tau tujuan belajarnya sejak dini.

    Dijaman pandemi covid ini semua guru dituntut untuk belajar menyesuaikan diri pembelajaran jarak jauh. sehingga metode ceramah seperti yang sudah belasan tahun saya lakukan tidak efektif lagi. Gadget sudah menjadi kehidupan murid kita saat ini, segalanya buat mereka. Mau tidak mau kita harus belajar lebih dari apa yang murid ketahui, agar mampu menarik mereka kembali kejalurnya saat murid sudah keluar batas. Membuat aplikasi berbasis android yang tanpa menggunakan paket data sudah pernah saya lakukan, namun bagaimana dengan siswa yang tidak punya gadget, apakah mungkin saya harus mendatangi satu persatu kediaman murid untuk memberikan pelajaran?. Kesulitan siswa bukan hanya kecanduan medsos, kecanduan game, tapi banyak hal yang membuat belajar dirumah hambatannya sangat beragam, diantaranya dituduh selalu bermain gadget padahal siswa sedang mengerjakan tugasnya. Membantu pekerjaan orang tua dirumah, karena tidak sekolah maka orang tua mengkaryakan anak untuk membantunya bekerja, sehingga beberapa anak menganggap sekolah itu untuk liburan dari tanggung jawab berat yang ada dirumah.

        Setuju dengan pendapat pak Bukik dalam kutipannya pada rekaman suara dalam materi memahami murid = memanusiakan hubungan, menyatakan bahwa peran guru di era teknologi informasi adalah membantu murid belajar. Sehingga jika saya harus membantu murid saya harus benar-benar memahami apa kebutuhan siswa sehingga murid benar-benar siap untuk belajar. Terkadang sayapun terlalu banyak berbicara sehingga lupa untuk mendengarkan siswa. Untuk memahami murid saya memberikan angket tentang kegemaran murid, pekerjaan orang tua, dan cara belajar murid. Cara belajar murid diawal bisa dilakukan dengan angket gaya belajar, namun berjalannya proses menurut pak Bukik dapat dilakukan dengan cara observasi cara belajarnya di kelas dan dirumah. 

    Saya secara pribadi saat belajar terganggu saat ada yang memutar lagu, walaupun saya guru musik namun saat belajar saya terganggu saat harus mendengarkan musik, namun tidak dengan orang yang berbicara. Saya bisa belajar sambil menonton film, yang dominan orang berbicara apapun bahasanya. Mendengarkan orang berhasa Hindi lebih membuat saya tidur nyenyak dibandingkan mendengarkan musik. Saya suka mengkoleksi buku, namun hanya baca saat saya butuh untuk menguatkan pandangan dan pemikiran saya tentang konsep. Membaca buku atau materi terkadang harus saya ulang beberapa kali. Menonton video tutorialpun terkadang saya harus sambil membaca, karena saya bukan orang yang sabaran menunggu sampai video tersebut selesai, namun saya akan kembali mengulangnya saat saya tidak memahami dibagian tertentu. Keinginan belajar saya tentunya bergantung pada apa yang menjadi minat saya, jika tidak minat pastinya sulit untuk mendorong diri untuk bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun saat minat muncul sesulit apapun pasti dapat saya taklukkan dengan baik.

    Pastinya bukan hanya saya yang memiliki cara dan gaya belajar yang unik, siswapun juga memiliki gaya dan cara belajar yang tidak kalah unik. Kesulitan belajar siswa juga perlu mendapat perhatian lebih dari kita guru. Saya termotivasi dari diri saya saat refleksi mengingat saat seumuran murid ketika belajar di SMP, sehingga kemudian sayapun melakukan profiling terhadap siswa untuk mengetahui apa saja informasi yang bisa saya dapatkan untuk membantu siswa mengembangkan dirinya sehingga mampu bertahan dan survive dalam kondisi sesulit apapun. Berikut ini adalah format kanvas profiling siswa yang saya buat menggunakan aplikasi Canva di android.






    Cara menganalisis formulir gaya belajar siswa dengan cara menghitung berapa banyak pilihan A, B, dan C yang di tulis oleh murid. Saya menginstruksikan murid menggunakan kertas profiling siswa untuk menuliskan jawaban gaya belajarnya.










    Sekian share dari saya, mungkin akan saya lanjutkan saat sudah ada hasil dari kelas saya. Saya juga pemula dalam memulai pembelajaran yang berpihak pada anak. Semoga apa yang saya bagikan bermanfaat dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Silahkan tinggalkan komentar agar saya mendapatkan umpan balik dan agar kita dapat belajar bersama saling memperbaiki guru demi pendidikan generasi Indonesia.

    

Rabu, 01 Desember 2021

Pertanyaan Esensial, SEPENTING APA DIKELAS????

    Saat mengajar 15 tahun ini, jika diingat ingat sepertinya itu hanya ada di di RPP namun saya tak pernah menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran. Tidur terlalu larut karena mempersiapkan administrasi mengajar, membuat setiap masuk kelas saya jarang tersenyum. Sensitif pastinya iya, karena kurang tidur membuat emosi marah selalu terdepan. 

    Sampai satu bulan yang lalu saya keracunan MERDEKA BELAJAR, dari sanalah saya mencoba membenahi cara mengajar saya. 18 program diklat di Kampus Guru Cikal sudah saya ikuti, mencoba menerapkan yang sudah dipelajari dikelas, namun ternyata masih banyak kekurangan dalam teknik saya mengajar. saya memang selalu kesulitan untuk membuat pertanyaan awal untuk memancing pengetahuan dan keingintahuan siswa.

    Malam ini saya membuka kembali kampus Guru Cikal dan mengambil program Keterampilan Membuat Pertanyaan untuk Merdeka Belajar. Ternyata banyak hal-hal baru yang saya dapatkan pada program ini. Program yang tidak pernah ada saat saya kuliah S1 dan S2 dulu.

    Disajikan 2 video pembelajaran tentang pembelajaran yang melakukan konsepsi tentang pertanyaan di video A. Guru menginstruksikan siswa untuk membaca materi tentang pencernaan manusia selama 5 menit dan guru memberikan pertanyaan organ apa saja yang membentuk pencernaan manusia. Dengan wajah panik Ando menyebutkan mulut, tenggorokan, lambung, usus. kemudian guru memberi umpan balik dengan menginstruksikan agar Ando membaca ulang materi, apakah tenggorokan termasuk organ pencernaan. Guru kemudian meminta teman Ando untuk menjawab apa yang kurang dari jawaban Ando. Saat Ando bertanya pada guru, guru tidak menjawab malah menginstruksikan Ando agar membaca ulang materi agar lebih mengerti, karena materi tersebut sudah diberikan pada pertemuan yang lalu.

    Pada video B, guru langsung bertanya pada siswa reaksi saat tubuh kelaparan, siswa langsung menjawab, lemas, tidak bergairah,susah konsentrasi. Kemudian guru menimpali lagi dari jawaban siswa yang menjawab pertama kali, mengapa susah berkonsentrasi saat lapar. Salah satu siswa menjawab karena asupan energi sudah menipis, sehingga tubuh tidak berdaya dan terasa lemas. Guru kemudian bertanya kembali pada siswa apakah siswa dapat menjelaskan mengapa dengan makan tubuh menjadi kuat dan tidak lemas. Siswa menjawab karena makanan mengandung vitamin dan energi. Setelah itu siswa diajak untuk menyebutkan organ-organ apa saja yang berperan dalam proses pencernaan. Saat siswa ragu antara kerongkongan dan tenggorokan, guru kemudian mengajak siswa untuk menonton video. Setelah menonton video barulah guru memberikan kesempatan peserta didik membuat pertanyaann dari video yang di tonton.

    Dari video tersebut saya sudah paham jika saya masih kurang paham tentang bagaimana membuat pertnyaan esensial, karena pembelajaran saya lebih banyak mengarah pada video A bukan video B.


        Pertanyaan esensial menjadi dasar merdeka belajar, 
 esensial akan mendorong murid untuk berkomitmen menentukan tujuan belajarnya, lepas dari pembelajaran secara formal di sekolah atau informal di luar sekolah. Melalui pertanyaan esensial, murid akan menemukan pertanyan-pertanyaan lanjutan sehingga mampu mempertimbangkan berbagai cara untuk mendapatkan pemahaman mengenai konsep, tema, teori, isu terkait tujuan belajarnya. Dan terakhir yang tidak kalah penting, melalui pertanyaan-pertanyaan pula murid dilatih untuk merefleksikan proses pembelajarannya.












Jenis - Jenis Pertanyaan

Pada proses pembelajaran pertanyaan mengenai fakta juga masih diperlukan, namun bukan satu satunya penekanan. Mengajukan pertanyaan merupakan langkah termudah untuk melibatkan murid dalam pembelajaran interaktif. Dalam mengolah informasi, murid tidak hanya belajar untuk pengetahuan atau konten semata. Akan tetapi, lebih kepada konsep, ide dan penerapannya pada kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pertanyaan yang tidak hanya menyampaikan konsep. Pertanyaan argumentatif juga diperlukan agar murid dapat menghubungkan permasalahan atau isu-isu ke dalam konteks yang dipelajari. Pada akhirnya, murid dapat memberikan solusi dan memecahkan masalah kehidupan. 



Pertanyaan Konsep

Pertanyaan konsep ialah jenis pertanyaan yang memuat ide, gagasan dan pernyataan dari materi yang bersifat abstrak. Untuk memudahkan guru mengajukan pertanyaan konsep, terdapat delapan jenis yang menjadi dasar dari pertanyaan konsep.



Kanvas Perencanaan Pertanyaan Esensial



Kanvas Keterampilan membuat pertanyaan, diturunkan dari :
1. Tujuan pembelajaran 
    Berisi tentang tujuan pembelajaran yang akan diberikan pada peserta didik, keterampilan apa yang 
    akan dikuasai murid, dan Kompetensi apa yang akan ditunjukkan murid.

2. Cakupan pembelajaran
    Berisi materi pengajaran apa yang akan guru gurnakan untuk membantu murid menguasai 
    tujuan pembelajrannya.

3. Tujuan pembelajaran dan cakupan pembelajaran berisi tentang materi pengajaran, 
    yakni fakta apa yang akan murid ketahui. Konsep apa yang diharapkan akan dipahami murid.
    Isu di masyarakat yang relevan dengan materi pengajaran. Permasalahan ini biasanya yang                     menimbulkan perdebatan atau keraguan.

4. Terakhir barulah membuat pertanyaan yang terkait dengan ketiganya.

Berikut ini adalah contoh kanvas yang saya buat dalam mata pelajaran Seni Budaya.




Daftar Pertanyaan esensial untuk materi mengidentifikasi alat musik berdasarkan cara memainkannya terdiri dari :
1. Faktual : Berapa banyak alat musik yang ada di ruang seni SMPN 1 Tlanakan, apa beda alat pukul pada alat musik berpencon terbuat dari logam dan bilah-bilah dari logam?

2. Konseptual : Bagaimana memainkan alat musik yang berpencon?, bagaimana memainkan alat musik yang menggunanakan kayu dan kulit?, apakah yang terjadi saat alat musik  dari kulit dimainkan menggunakan pemukul kayu?

3. Argumentatif : mengapa musik daul di Pamekasan, jarang sekali dimainkan wanita?,  Mengapa beberapa ulama menyatakan musik itu haram?, Mengapa menurutmu notasi musik tidak perlu dipelajari?, Bagaimana teman-teman tunanetra (buta) dapat memainkan alat musik dengan baik dibandingkan kita yang bisa melihat?

    Bagaimana menurut anda kanvas yang saya buat?, diskusi bersama yuk, dan tinggalkan komentar apa saja yang kurang dari kanvas saya. Terimakasih, salam "PANTANG MENGAJAR JIKA TAK BELAJAR"!