Kamis, 02 Desember 2021

Keadilan dan Kesetaraan itu Sama!

Memahami Murid untuk Pembelajaran Merdeka Belajar

Hasil belajar di Kampus Guru Cikal ,17 November 2021 



KEADILAN DAN KESETARAAN ITU SAMA! Benarkah?

Mari kita perhatikan gambar di bawah ini!


                                       gambar 1                                                                   gambar 2

        Menurut anda manakah yang merupakan keadilan, dan manakah yang merupakan kesetaraan? mari kita bahas lebih dalam. Gambar 1 merupakan keadilan karena setiap orang mendapatkan 1 balok, namun anak yang memiliki tinggi badan lebih pendek dari yang lain tidak dapat menonton pertandingan yang terjadi didalam pagar. Gambar ke 2 merupakan kesetaraan, karena pada akhirnya semua dapat menonton pertandingan didalam pagar.

    Jika membawa konsep keadilan dan kesetaraan di dalam kelas dengan beragamnya kemaampuan peserta didik, tentunya perlakuan dan treatment yang dilakukan jelas tidak boleh disama ratakan, atau adil dalam konsep yang terlihat pada gambar 1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keadilan belum tentu setara, setara berarti setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.

    Mengapa perlu memahami profil murid? karena dengan mengetahui profil murid kita sebagai guru menjadi mengetahui apa yang sebenarnya kebutuhan  murid, dan informasi tersebut dapat digunakan untuk merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dikelas.

    Berat mungkin saat diterapkan guru SMP ataupun guru mata pelajaran yang harus mengajar dikelas berbeda. Namun pastinya akan lebih mudah jika peserta didik sudah termotivasi dan mengetahui tujuan belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selama ini saya sebagai guru rasanya belum pernah bertanya kepada siswa saya tujuan belajar mereka apa, apa yang ingin mereka ketahui dengan belajar. Kesulitan belajar murid juga perlu diketahui oleh guru. Selama ini saya hanya terfokus pada keinginan pribadi untuk bisa menurunkan ilmu saya kepada murid, suka ataupun tidak suka, mau ataupun tidak mau mereka wajib menerima dan menelan apapun ilmu yang saya berikan. Sampai akhirnya saya mengetahui hal tersebut tidak membuat murid saya lebih memahami bahwa yang saya lakukan demi masa depan mereka. 

       Murid yang saya anggap bodoh, tidak pernah mengerjakan tugas setelah diberi angket untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya, secara luar biasa mampu mendeskripsikan apa yang diinginkan dan bagaimana cara untuk meraih keinginannya. Begitu pula dengan murid yang cita-citanya hanya ingin menjadi supir truk seharusnya tidak perlu saya jejali dengan teori musik yang rumit,  pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya mereka hafalkan, dan akhirnya tidak mereka gunakan lagi dimasa depan. Buang - buang energi rupanya segala hal yang sudah saya lakukan selama 15 tahun ini, walaupun mungkin tidak berlaku pada murid-murid yang sudah tau tujuan belajarnya sejak dini.

    Dijaman pandemi covid ini semua guru dituntut untuk belajar menyesuaikan diri pembelajaran jarak jauh. sehingga metode ceramah seperti yang sudah belasan tahun saya lakukan tidak efektif lagi. Gadget sudah menjadi kehidupan murid kita saat ini, segalanya buat mereka. Mau tidak mau kita harus belajar lebih dari apa yang murid ketahui, agar mampu menarik mereka kembali kejalurnya saat murid sudah keluar batas. Membuat aplikasi berbasis android yang tanpa menggunakan paket data sudah pernah saya lakukan, namun bagaimana dengan siswa yang tidak punya gadget, apakah mungkin saya harus mendatangi satu persatu kediaman murid untuk memberikan pelajaran?. Kesulitan siswa bukan hanya kecanduan medsos, kecanduan game, tapi banyak hal yang membuat belajar dirumah hambatannya sangat beragam, diantaranya dituduh selalu bermain gadget padahal siswa sedang mengerjakan tugasnya. Membantu pekerjaan orang tua dirumah, karena tidak sekolah maka orang tua mengkaryakan anak untuk membantunya bekerja, sehingga beberapa anak menganggap sekolah itu untuk liburan dari tanggung jawab berat yang ada dirumah.

        Setuju dengan pendapat pak Bukik dalam kutipannya pada rekaman suara dalam materi memahami murid = memanusiakan hubungan, menyatakan bahwa peran guru di era teknologi informasi adalah membantu murid belajar. Sehingga jika saya harus membantu murid saya harus benar-benar memahami apa kebutuhan siswa sehingga murid benar-benar siap untuk belajar. Terkadang sayapun terlalu banyak berbicara sehingga lupa untuk mendengarkan siswa. Untuk memahami murid saya memberikan angket tentang kegemaran murid, pekerjaan orang tua, dan cara belajar murid. Cara belajar murid diawal bisa dilakukan dengan angket gaya belajar, namun berjalannya proses menurut pak Bukik dapat dilakukan dengan cara observasi cara belajarnya di kelas dan dirumah. 

    Saya secara pribadi saat belajar terganggu saat ada yang memutar lagu, walaupun saya guru musik namun saat belajar saya terganggu saat harus mendengarkan musik, namun tidak dengan orang yang berbicara. Saya bisa belajar sambil menonton film, yang dominan orang berbicara apapun bahasanya. Mendengarkan orang berhasa Hindi lebih membuat saya tidur nyenyak dibandingkan mendengarkan musik. Saya suka mengkoleksi buku, namun hanya baca saat saya butuh untuk menguatkan pandangan dan pemikiran saya tentang konsep. Membaca buku atau materi terkadang harus saya ulang beberapa kali. Menonton video tutorialpun terkadang saya harus sambil membaca, karena saya bukan orang yang sabaran menunggu sampai video tersebut selesai, namun saya akan kembali mengulangnya saat saya tidak memahami dibagian tertentu. Keinginan belajar saya tentunya bergantung pada apa yang menjadi minat saya, jika tidak minat pastinya sulit untuk mendorong diri untuk bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun saat minat muncul sesulit apapun pasti dapat saya taklukkan dengan baik.

    Pastinya bukan hanya saya yang memiliki cara dan gaya belajar yang unik, siswapun juga memiliki gaya dan cara belajar yang tidak kalah unik. Kesulitan belajar siswa juga perlu mendapat perhatian lebih dari kita guru. Saya termotivasi dari diri saya saat refleksi mengingat saat seumuran murid ketika belajar di SMP, sehingga kemudian sayapun melakukan profiling terhadap siswa untuk mengetahui apa saja informasi yang bisa saya dapatkan untuk membantu siswa mengembangkan dirinya sehingga mampu bertahan dan survive dalam kondisi sesulit apapun. Berikut ini adalah format kanvas profiling siswa yang saya buat menggunakan aplikasi Canva di android.






    Cara menganalisis formulir gaya belajar siswa dengan cara menghitung berapa banyak pilihan A, B, dan C yang di tulis oleh murid. Saya menginstruksikan murid menggunakan kertas profiling siswa untuk menuliskan jawaban gaya belajarnya.










    Sekian share dari saya, mungkin akan saya lanjutkan saat sudah ada hasil dari kelas saya. Saya juga pemula dalam memulai pembelajaran yang berpihak pada anak. Semoga apa yang saya bagikan bermanfaat dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Silahkan tinggalkan komentar agar saya mendapatkan umpan balik dan agar kita dapat belajar bersama saling memperbaiki guru demi pendidikan generasi Indonesia.

    

5 komentar:

  1. Alhamdulillah semakin menarik materi yang disampaikan terutama pada proses menggali informasi gaya belajar serta minat siswa.. InshaAllah akan saya coba terapkan di kelas saya.
    Ada pertanyaan yang membuat saya penasaran.. Ibarat pepatah tak kenal maka tidak tahu, ibu Lidya.. Siapakah bapak Bukik?
    Terimakasih telah berbagi untuk saya melalui tulisan yang bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga baru kenal, pak bukik ini aktivis pendidikan MERDEKA BELAJAR.Coba Cek IG bun ... banyak hal menarik mengenai aktivitas beliau. kalau kemaren di belajar di kanal merdeka belajar pasti ketemu pak bukik.

      Hapus
  2. Mantap, adil itu bukan berarrti disamaratakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena itu kita benar-benar harus melihat apakah siswa sudah diberikan materi yang setara?

      Hapus